Sejarah Desa


Pemandangan Desa Bangsereh dari atas bukit
Dahulu kala, Bangsereh adalah sebuah hutan kecil yang tak berpenghuni, kemudian ada seorang pengelana yang tiba-tiba singgah di tempat tersebut karena merasa lelah dan perlu untuk beristirahat. Ketika hendak melanjutkan perjalanannya kembali sang pengelana yang belum dikenal identitasnya tersebut tiba-tiba mencium bau khas yang asing di hidungnya. Pengelanan tersebut lantas penasaran dengan bau tersebut, dan tergerak hati ingin menjumpai asal mula dari bau tersebut. 
Sang pengelana itu akhirnya mulai berjalan sendiri mengikuti bau harum yang sangat khas itu kearah selatan dari ia berdiri. Melewati semak-semak yang tinggi dan penuh duri, hingga tangan, kaki dan badannya penuh luka. Tapi pengelana tersebut tetap melanjutkan tujuannya untuk mencari asal muasal bau harumnya. Dan setelah berjalan dengan sekuat tenaga bau harum itu semakin pekat menyengat dan pengelana itu juga semakin bersemangat untuk menemukan bau tersebut. 
Ketika akan melanjutkan yang tinggal beberapa langkah menuju lokasi asal bau harum itu, pengelana terhalang oleh semak belukar yang tinggi dan tumbuh lebat, akhirnya ia berfikir akan memotong-motong semaknya karena ia meyakini bahwa asal bau itu ada di balik semak yang tinggi itu. 
Setelah pengelana itu memotong semak akhirnya terlihat sesuatu yang menyita perhatian pengelana tersebut, belum sempat selesai ia sudah keburu berlari menuju tempat yang menyita perhatiannya. Mata sang pengelana itu terbelalak melihat kumpulan tumbuhan yang tersebar di padang yang sangat luasia terheran dan kagum bahwa asal muasal dari bau  harum tersebut dari tumbuhan yang biasa kita sebut sebagai Bunga Serai. 
Tak mau perjalanannya menjadi sia-sia akhirnya pengelana itu mengambil segulung dari bunga serai untuk dibawa dalam perjalannnya. Kemudian ia melanjutkan kembali perjalannya sembari membawa bunga serai yang diikat dalam tasnya. Bau harum yang tetap tercium hidung membuatnya semakin semangat untuk melanjutkan perjalanannya. 
Setelah sehari semalam sejak ia meninggalkan tempat dimana bunga serai itu tumbuh, pengelana ganti singgah di suatu desa yang dimana penduduknya sedang melakukan jual beli di pasar. Ia duduk di tempat makan untuk makan siang, tapi tiba-tiba ada beberapa orang desa yang mengikutinya dari belakang menghampirinya. “apakah yang kamu bawa itu, baunya ini sangat harum dan membuat kami ingin melihatnya” tanya salah seorang dari pemuda-pemuda desa tersebut. 
Pengelana itu langsung mengeluarkan dan menunjukkan kepada warga. Pemuda-pemuda itu meminta beberapa helai untuk di buat suatu percobaan dan pengelana itu memberikannya. Pemuda desa membawa serai itu ke tabib untuk ditanyakan khasiatnya, kemudian sang tabib menyarankan kalau tanaman ini di seduhkan dengan air hangat. Alhasih air seduhan itu mempunyai rasa dan harum yang sangat menggiurkan dan mampu menghangat tubuh. 
Kemudian coba-mencoba bunga serai semakin marak dipercobakan sampai ke tahap makanan yang bisa membuat rasa masakan semakin sedap dan harum baunya. Pengelana tersebut mulai kehabisan persediaan serai yang dibawanya karena hampir setiap hari orang-orang membelinya. Kemudian ia bertekad kembali lagi untuk mengambilnya ketempat semula di mana padang yang ditumbuhi banyak bunga serai. 
Semakin banyaknya permintaan dari masyarakat akhirnya pengelana itu memutuskan untuk bertempat tinggal di sekitar hutan yang banyak tumbuh bunga serai, ia juga mengajak orang-orang untuk ikut mengembang biakkan lahan tersebut. Seiring berjalannya waktu banyak penduduk yang jugaa ikut bertempat tinggal disana, sehingga daerah tersebut sudah ditempati orang dan menjadi sebuah desa yang orang-orang menyebutnya Desa Kembang Serai atau singkatnya Desa BangSereh.

0 komentar:

Copyright © 2018 Desa Bangsereh